Suatu ketika suamiku meminta aku untuk memasak makanan kaleng, sebut saja sarden. Udara seakan berhembus sejuk itu terasa lembut membelai kulitku. Padahal sebetulnya hawanya cukup panas di bulan Ramadhan saat itu.
Suamiku sebenarnya anti makanan seperti itu. Sudah bertahun-tahun kami tak mengkonsumsinya. Entah mengapa dia memintaku untuk memasaknya pada hari itu. Aku ingin menolak karena merasa sedikit aneh dengan permintaannya. Ada perasaan tak wajar yang hinggap dalam kebingungan di kudukku. Meski demikian, entah apa itu, aku menikmatinya. Aku ingin serasa tak ingin berpisah dengan pengalaman seperti ini. Pengalaman dimana suamiku benar-benar membutuhkanku. Dan… aku mengiyakannya.
Serta merta aku ambil paket sayur sop yang aku beli di warung dekat rumah kami yang masih bercampur dengan orangtuanya, tepatnya sepulangku dari minimarket tempat aku membeli sekaleng sarden itu. Kupotong sedang para wortel, kembang kol, buncis, tomat, dan bawang bombay. Aku gerus merica dan bawang putih. Menumisnya sejenak diatas wajan dan bara api, lalu menuangkan sekaleng penuh sarden yang aku buka dengan cara sederhana menggunakan pisau dan ulegan. Sentuhan terakhirku adalah menambahkan sedikit gula merah agar kuah mengental dan semakin terasa legit.
Sambil menunggu matangnya masakanku, aku tertawa kecil mengingat kata-kata suamiku tadi siang. Dia mengatakan hal yang jarang diungkapkannya padaku. “Aku ingin makan sarden nanti ketika berbuka, tapi aku tidak suka sarden pasaran.“, katanya. Kataku, “ Tumben ingin makan sarden, biasanya anti. Tapi yang tidak pasaran itu seperti apa, pa?”. Sahutnya, “Yang tidak amis pokoknya. Kamu campur apa gitu, biar gak enek di lidahku. Pokoknya aku hanya mau makan sarden yang tidak amis. Titik.”
Aku senang jika suamiku jujur mengenai apa yang diinginkannya. Ketika aku memasak dengan penuh cinta, menurutku cintanya padaku semakin bertambah dengan penampakan gesture mulutnya yang tak berhenti mengunyah meskipun matanya tetap tak berpaling dari berita politik kesukaannya di salah satu stasiun televisi swasta. Dan benar, beberapa saat kemudian dia beringsut ke arah alat penanak nasi untuk menambah satu piring nasi lagi. Aku tersenyum melihatnya. Dia tak ubahnya seperti bocah laki-laki yang kelaparan.
Dia tak pernah bilang suka, enak, apalagi cinta, atau kata-kata semacamnya yang ingin didengar seorang perempuan. Selalu serius dengan apa yang disebutnya sebagai main job. “Ma, aku susah-susah begini demi keluarga, kamu dan anak-anak. udah ah, badanku meriang ini, aku tidur dulu.” begitu terus jawabnya jika aku tagih waktu yang berkualitas dengan keluarga. Anak-anak merindukan seorang ayah dan aku merindukan seorang suami yang … perhatian.
Suamiku tak pernah menunjukkan secara jujur mengenai apa yang kusebut sebagai perasaan cinta padaku. aku selalu terlihat bodoh disamping dia yang begitu cerdas menyuarakan pikirannya di media massa dan ketika maju memberikan orasi dalam suatu pertemuan. Saat itu bagiku dia adalah sosok pemuda yang bersemangat atas perubahan. Bintang di panggung perubahan yang siap menghentakkan hati siapa saja yang melemah. Pemuda gigih yang tak pantang menyerah atas nasib dan semua tetek bengeknya. Saat itu aku tak mengenal dia sebagai seorang suami yang kekanakan lagi. Jujur, aku bangga ketika dia ada di panggung itu. Dan berulangkali aku ungkapkan padanya, dia berkata dingin sambil selalu berusaha mengindahkan mataku yang memandang dalam padanya, “ Bukankah dibalik lelaki hebat ada perempuan hebat?” entah itu benar atau tidak, yang jelas setiap dia mengatakan itu, aku hanya tersipu malu dan menggengam erat tangannya. Jangan tanya mengapa.
Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Hampir setiap malam aku terisak diatas sajadahku. Menengadahkan tangan dan meminta agar Tuhan kabulkan semua cita-citanya, agar aku dan keluarga dapat tenang.. bahagia.. hati dan pikiran kami memang hanya untuk laki-laki yang aku sebut suami itu. Laki-laki tempatku berinvestasi sekaligus orang yang senantiasa membuatku kecewa dengan banyaknya pikiran, waktu dan tenaga untuk semua yang disebutnya sebagai perjuangan menuju kekuasaan ini. bagaimanapun aku sudah terlanjur sayang padanya. dan aku senang dia menyatakan keinginannya yang jujur seperti makan sarden hasil masakanku. Sepanci sarden yang penuh makna akan selalu aku rindukan, karena keinginan dan kejujuran adalah barang mahal bagi kami, bagiku.
jangan pernah menyerah atas kegagalan yang pernah terjadi dalam kehidupan. bagaimanapun manusia diciptakan olehNya dengan tujuan bukan sia-sia dan tidak pantas disia-siakan. hidup sekali. kenali diri dan tulislah tinta emasmu.
Tampilkan postingan dengan label cerita cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita cinta. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 Oktober 2011
Rabu, 18 Mei 2011

Bicara yang lain saja, jangan soal cinta..
Ah, rumahtangga. Sudah 3 tahun aku melaluinya. Belum apa-apa, biduk ini sudah akan terancam karam. Ternyata pasca menikah kami memiliki banyak perbedaan pikiran dan hal-hal prinsipal. Aku pikir dengan masa pacaran hampir 3 tahun, kami saling mengerti satu sama lain. Ternyata tidak demikian.
Suamiku adalah seorang lulusan sarjana bidang pemerintahan sebuah perguruan tinggi swasta. Lingkungan kampus adalah tempat dimana kami memulainya, pertama kali bertemu, berkenalan dan memutuskan untuk bersama. Awal pacaran adalah hal yang sangat menyenangkan. Meski putus nyambung mewarnai hari-hari pacaran kami, itu tak pernah bertahan lama. Paling banyak hanya 1-2 hari saja. Setelahnya balik nyambung lagi dan aku berpikir bahwa kami saling membutuhkan satu sama lain. Ya, dia suamiku selalu tahu cara menundukkan hati dan perasaanku, membangkitkan perasaan tak mau sendiriku, mempertebal rasa kasihan dan sangkaanku atas kesendiriannya nanti. Aku merasa bertanggungjawab atas perasaannya. Setelah itu kemana-mana bersama lagi, tak henti-hentinya bercakap tentang kami dan masa depan. Aih, masa depan yang mana pula. Look at us now.. I feel no progress in our marriage.
Ya, entah mengapa kami sering terlibat dalam caci maki dan kemarahan. Sebenarnya aku menginginkan pasangan yang dapat menjadikan nyata mimpi-mimpiku. Menenangkan kegelisahan hatiku dan bertanggungjawab lahir batin atasku. Membawaku dalam kebahagiaan dunia akhirat dan kunci jawabannya adalah bukan dengan kekerasan fisik dan psikis. Kupikir suamiku dan manusia lainnya sama juga pikirannya denganku. Aku tahu kami sebenarnya saling mencintai tapi dengan cara yang berbeda. Sedikit menyakitkan, tapi itulah kenyataan.
Aku pernah membaca bahwa seorang yang merasa hampa adalah orang yang kehilangan keyakinan (agama) dan harga dirinya. Ya, mungkin itu yang aku rasakan beberapa waktu lalu. aku melayani mengabdi mencintai suamiku teramat sangat, sehingga aku sendiri yang merasa sakit ketika feedback yang aku harapkan tidak muncul darinya. Perlu diketahui, secara materi kami memang belum settle. Aku adalah pekerja lepas sebuah lembaga pelatihan di kampus kami, dan suamiku adalah seorang politisi yang sedang berjuang untuk dapatkan posisi di negeri ini. Intinya tiap hari belum selalu ada uang untuk makan. Ya, aku memakluminya dan aku berusaha dengan keras untuk memahaminya. Aku tahu suamiku adalah pemikir, pemilik ide-ide besar yang mendasar tentang perubahan, seorang visioner idealis yang mampu melihat jauh kedepan tentang masa depan negara ini. Dan untuk melakukannya, dia berjuang dengan caranya sendiri, yakni berusaha berperan dalam sistem pembuatan kebijakan. Dia bercerita bahwa untuk mengubah negara yang hampir bobrok dari semua lini ini, dia harus masuk dalam core nya dan itu bukan hal mudah. Berangkat dari kemauan kerasnya tersebut, aku tahu bahwa akan banyak yang harus dikorbankan, secara materi, tenaga dan termasuk perasaanku.
Mungkin aku terlalu bermimpi. Padahal ini kenyataan yang harus dihadapi. Tapi setidaknya aku tak ingin sendiri, melainkan ada suamiku yang menguatkanku. Aku ingin dia selalu ada saat aku butuh. Ternyata tidak. Kepentingan lobi-lobi politik hampir tiap hari dilakoninya. Berangkat siang, pulang tengah malam, hampir pagi atau bahkan berhari-hari tidak pulang. Katanya dia bertemu dan memenuhi undangan stakeholder di bidang legislasi yang harapannya kelak akan memberi kami materi dan diharap bukan cuma janji. Sebetulnya suamiku sempat memiliki pekerjaan tetap sebagai kepala promosi di salah satu perusahaan rokok nasional yang membawahi 5 kabupaten di Jawa Timur. Tapi hatinya berkata lain dan dia memutuskan resign agar dapat mengikuti pemilihan legislatif tahun 2009 lalu, meski pada akhirnya dia kalah suara. Sekalipun begitu, sejak itu dia tetap bersikukuh terhadap keinginannya untuk masuk dalam dunia politik. Awalnya aku tidak setuju dengan bidang yang dipilihnya, karena proses dan hasil tidak berimbang, lama, dan aku tak merasa tak sanggup. Tapi dia selalu berhasil merayuku dengan mengatakan bahwa politik adalah investasi masa depan dan akupun luluh. I trust to him.
Setelah itu aku merasa kosong. Ada perasaan bahwa aku harus siap kehilangan segalanya demi suamiku. Bahkan hubungan dengan keluargaku sempat memburuk karena ketidakpercayadirianku dan ketiadaan biaya. Aku sebagai ibu sering merasa tidak mampu dalam hal pengasuhan anak-anak kami. Sering aku merasa tak enak badan karena terlalu memikirkan dia yang jarang di rumah. Sudah makankah dia, sakit maag nya kambuh tidak, barang bawaannya ada yang ketinggalan tidak, kok hari ini ga ada sms atau telpon dari, even.. prasangka yang paling menyeramkan…. Apakah dia tidak menginginkanku? Akankah dia menemukan perempuan lain yang diinginkannya di luar sana selainku? Aku kadang berpikir bahwa dia sebenarnya tidak mencintaiku. Aku berpikir suamiku berharap akan mendapatkan perempuan lain yang sesuai dengan kriterianya. Perempuan baru yang lebih mengenal dirinya dan berhasil secara materi. Ya, soal materi ini, aku memang sering ajukan proposal padanya agar aku dapat bekerja kasar saja, apa saja aku mau, agar lebih cepat dapatkan uang. Tapi apa daya, acc ga pernah keluar dari bibir bapak yang satu itu. Jadi sebenarnya aku amat sangat bingung dengan dirinya. Apa yang dia mau dariku? Aku merasa dia tidak berkata jujur ketika kuberanikan diri untuk tanyakan hal itu. Aku merasa belum pernah mengenal dan mengena di hatinya. Hampir seperti… cinta bertepuk sebelah tangan.
Ya, tapi itu dulu. Sekarangpun jika dipikir, aku rasa hubungan kami belum membaik juga. Hatiku belum berasa tenang dan nyaman. Bagiku masih banyak halangan yang merintangi jalan kami. Ya, halangan yang tak mungkin aku ceritakan disini karena menyangkut beberapa pihak. But, bagaimanapun pihak-pihak tersebut adalah saudara sebadan sesama Muslim. Jadi lebih baik tak usah memperpanjang urusan, kan? Jujur saja, sekarang ini aku menyerahkan urusan rumah tanggaku langsung kepada Tuhan YME. Aku membiarkanNya melihat, menilai dan memutuskan akan jadi apa kelanjutan hubungan kami ini kelak. Aku lelah dan sudah ga sanggup memikirkan semuanya sendiri. Jadi, lebih baik begini, ringankan pikiran, letakkan senyum di hati dan berperilaku yang baik, murni tanpa prasangka buruk pada semua orang dan Tuhan sendiri. Merujuk pada QS Al Hujuurat, bukankah manusia yang mahkluk ciptaanNya ini tidak boleh dahului hukumNya?
Aku sekarang ini hanya berusaha memberikan yang terbaik yang aku bisa untuk suamiku, anak-anak dan keluarga kami berdua, terutama untuk suamiku, meski aku merasa aku tidak sempurna untuknya. Tapi bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Hidupku kini adalah untuk melayani. Bukankah sikap Tuhan seperti itu, Dia orang tua yang baik. Menciptakan anakNya untuk surga keabadian di akherat, mengawasi kehidupan sang anak di dunia dan memberikan hukuman neraka dunia akherat jika sang anak mulai nakal. Tuhan melayani umatNya dengan sempurna. Memberikan semua yang kita butuhkan di Bumi ini, all free, even tubuh kita ini dan alat-alat didalamnya, yang mungkin sering kita salahgunakan kegunaannya. astagfirullah..
Kini aku sedang penjajakan untuk coba temukan fasilitas yang diberikan Tuhan kepada umatNya, yang cocok denganku. Mungkin ini yang cocok ya, aku coba menulis apa yang jadi ganjalan dalam hatiku. Aku memang tak pandai bersilat lidah, namun aku memiliki hati dan tangan untuk ungkapkan perasaanku melalui tulisan. Aku hanya aku, aku harus terima kenyataan bahwa keadaan tidak akan berubah jika kita tidak ingin berubah. Ya, memang harus disadari betul-betul bahwa secara hati kami tidak akan pernah bisa bertemu. Dan untuk mempertahankan pernikahan ini secara agama dan administratif, aku harus mau mengalah sementara waktu sampai vonis Tuhan sesungguhnya, nanti, entah kapan. Aku tahu Tuhan masih mengawasi kami dan kebodohan kami. Aku hanya minta pada Tuhan untuk kuatkan hatiku. Jadi, kini ketika menyadari bahwa hatiku mulai terasa dijajah lagi oleh suamiku, aku tak mau terlalu memikirkannya dan bibirku harus kupaksa berterus terang padanya, “mas sayang, aku takut jatuh dan hancur lagi, jadi tolong bicara yang lain saja, jangan soal cinta ya……”
Langganan:
Postingan (Atom)