Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Mei 2012

FROM MAYAN WITH LOVE


4/29/12. 2.32 am. Malam ini saya berada di rumah seorang teman ketika sama-sama menjadi pengawal pemilu beberapa waktu silam. Di kaki pegunungan Semeru nan sejuk, mungkin hanya saya saja yang belum terlelap dini hari ini. Pikiran saya melayang-layang tiada tahu rimbanya, gelisah datang tiba-tiba. Meski bulan sabit dan lenguh kerbau berharmonisasi dengan suara lemari pendingin dan detak jam, saya makin gelisah.

Sebal sekali, MirC dan YM tak juga connect. Apalagi membuka Facebook dan Yahoo. Ah, maya, kenapa kamu memperbudak aku dengan iming-iming indahmu? Mengapa aku tak bisa menghilangkan kata “sinyal” dari pikiranku? Maya, maya, kamu itu kalau dipikir hanya halusinasi. Sumbangsih media elektronik yang membawa tubuh dan pikiran manusia melesat ringan melintasi batas ruang dan waktu.

Pikiran saya masih melayang dan berhenti pada setting-an waktu beberapa tahun lalu. Saya pikir saya sudah banyak membuang waktu saat ini. Bermain kata-kata tak berarti. Bukankah tugas manusia cukup menentukan mimpi dan memolesnya sehingga menjadi nyata? Maya lagi-lagi bermain dengan saya. Omong-omong, saya sudah lama berteman dengannya. Sejak lama, hampir belasan tahun lalu, sejak saya muak berteman dengan kenyataan.

Saya ingin bercerita. Lebih dari satu dekade lalu maya merupakan teman terbaik saya. Melewati masa-masa indah bersamanya adalah hal yang saya impikan setiap hari. Dia diam dan penurut. Tak banyak bicara dan hanya menampilkan suatu realita buatannya, miliknya seorang. Sampai hubungan kami renggang, ketika maya memperkenalkan saya dengan seorang yang sudah membuat saya jatuh cinta sekaligus rasakan sakit minta ampun (lagunya Mulan Jameela, red). Saat itu saya declare untuk kembali dalam dunia nyata, dimana saya bisa menemukan diri saya lagi. Meski saya akui, dia layak saya urus dan mengurusi saya.

Dari maya menuju nyata, sampailah saya pada suatu perjumpaan dengan hal yang disebut cinta. Tak ada yang paham apa kaitan dengan itu semua, sekalipun saya sang pelaku. Yang pasti saya merasakan kenyamanan, keindahan dan kehangatan. Dan mulai paragaraf ini saya batasi pada cinta antara dua anak manusia, satu perempuan satu lainnya, sebut saja laki-laki.

Lewat sharing dan cara pandang yang sama, saya bisa melihat dunia (benar-benar) dari sisi mahkluk hidup. Memegang pernik kalung bulu suku Dayak, menghayati Syailendra dalam relief Borobudur, rasakan asinnya berenang di tepian Kukup, bermain pasir di Parangtritis, rasakan lezatnya durian Wonosari, seremnya suasana peradilan di pengadilan Sleman, hingga dinginnya Kaliurang dan harumnya bebungaan liar di sekitarnya adalah pengalaman berarti dalam hidup saya. I feel worthy, better anytime in my life. He’s the one unforgettable.

Who is he? Now he’s an unknown for me. He left me with open wound and I never let myself to be cured. I feel deep in love. Well, mencintai adalah pekerjaan terberat dalam hidup saya. Mencintai berarti pelepasan energi negatif, berperasaan tenang jika bersama sesuatu atau seseorang tepat bersama kita. Mencintai bukanlah suatu dosa, karena dia hadir dalam suatu perasaan positif yang membuka kejernihan pikiran dan mata batin. Dia ada dan menghidupkan dalam suatu yang hidup. Mencintai adalah sebentuk perasaan sempurna dari Tuhan, anugerah kepada mahklukNya, agar semakin menguatkan keagungan dan eksistensi terhadapnya. Tak ada yang lebih baik di dunia ini, selain cinta, cinta, cinta, dan lebih baik cinta daripada perang. Katakanlah begitu, karena cinta terasa begitu murni jika semuanya berjalan dengan apa adanya tanpa saling menciderai pihak terkait. Karena saya memandang arti cinta sebagai suatu keseriusan, pengorbanan tulus yang tiada tandingannya.

Mencintai adalah membiarkan pasangan untuk bahagia menjadi dirinya sendiri. Mencintai berarti melepaskan keegoisan yang membara dan gumpalan merah dalam batin. Lepaskan dan cairkan dia, menjadi sebentuk cahaya putih yang hanya nampak pada raut wajah sang pencinta, yang damai dan menyejukkan. Sang pencinta menjadi pemilik mata sayu dan senyum terindah. Suaranya yang lembut dapat membuat bayi tertidur dalam pangkuannya. Sang pencinta memiliki wajah yang berbinar karena cahaya tulusnya yang tak pernah padam. Sang pencinta adalah manusia terbaik diantara semua manusia, karena dia dapat menaklukan das uber ich ke zona terendah. Sang pencinta menjadi mahkluk tahan banting yang meski air mata berlinang di kedua pipinya, dia hanya bersedih tidak bisa membahagiakan pasangannya dengan sempurna. Marahlah kepadanya, dan dia akan membalasmu dengan pelukan hangat dan kata-kata yang menentramkan.

Sang pencinta adalah orang yang khatam menerima cobaan. Dia menemukan kembali eksistensi dirinya yakni bagaimana dia dapat berguna untuk lingkungannya, terkhusus pasangannya. Dia mendedikasikan dirinya untuk mengurus kedua hal tersebut. Tanpa tanda tanya, karena dia sudah memiliki keyakinan dalam diri yang dituntun intuisi. Dia tetap berada dalam titik itu, titik memberi tanpa mengharap imbalan. Katakanlah tulus, itu adalah kehidupan sang pencinta. Dan saya sudah mengkhianati sang pencinta.

Kebodohan tersempurna dalam kehidupan berhasil saya laksanakan. Kali ini saya ditipu oleh kenyataan yang justru tampak indah, ternyata berupa bullshit belaka yang menyaru dalam diri malaikat. Berkenalan dengannya adalah kesalahan terbesar dalam kehidupan saya. Tapi selalu saja ada sisi positifnya, saya menjadi paham bahwa hidup merupakan struggle antara kenikmatan dan cobaan. Batas keduanya terasa tipis karena semua kenikmatan adalah cobaan dan semua cobaan adalah kenikmatan.

Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, layaknya susuk yang sudah tak mempan lagi, sudah habis daya pikatnya. Saya terbelenggu dalam suatu keadaan dimana saya kehilangan jati diri dan masa depan. Saya serahkan nasib padanya, berharap ada keajaiban datang dan mengeluarkan saya dari jerat palsu ini. Berharap ini adalah mimpi panjang yang akan usai sejenak ketika saya mendengar bunyi weker dan terbangun. Tapi tidak, ini kenyataan, masih sakit pula ketika tercubit atau tergigit. Apa daya saya menerimanya dan menyarankan diri saya untuk bangun lebih awal. Saya tak ingin terlambat lagi untuk memulai kehidupan saya selanjutnya. Saya tersadar saat ini, saya rasakan tubuh saya ringan meski kepala masih pusing dan kaki kram. Saya temukan diri saya dihadapkan dalam beberapa percabangan jalan. Saya harus memilih. Tetap tinggal atau bergerak maju. Maju pun, harus menentukan arah dan tujuan. Mau apa saya di kehidupan saya kedepan? Mau apa saya di kehidupan saya selanjutnya?

Kalau dipikir ulang, ini kembali lagi ke pemilik semesta. Dia adalah pemberi kasih sayang dan pencipta para pemberi kasih sayang. Tapi Dia yang asli, sang Pencipta. Mau apa? Memang hukumnya demikian. Jadi ya, untuk menjadi diri sendiri, cukuplah bekerjasama dan mencintai diri sendiri. Dia Maha Pemberi dan Maha Sempurna jadi Dia tak kekurangan supply apapun, justru Dia adalah supplier-nya. Kehidupan dunia ini hanya tipu-tipu layaknya maya yang tak nyata. Kehidupan “ter-nyata” adalah kehidupan kelak di akherat. Ketika manusia segala bangsa berkumpul di Mahsyar yang terdiri dari tiga matahari yang berjarak 3 senti diatas kepala. Sembari berjalan menuju tempat pengadilan dengan didampingi dua malaikat penjaganya. Ujian pendadaran ala alam Barzakh dimulai, pertanggungjawaban kehidupan di dunia. Setelah itu baru diputuskan, layak masuk surga atau neraka dan disanalah semua yang sesungguhnya terjadi. Kenikmatan dan cobaan nyata, manakah yang akan kita pilih, terserah kita di dunia ini.

Kalau dipikir, manusia itu sebenarnya mahkluk lemah (yang juga terbuat dari lemah –bahasa Jawa, tanah-) dibanding benda-benda ciptaanNya yang lain. Terbuat dari daging dan darah, jika kena panas jadi terbakar, jika kena dingin jadi beku. Jadi apa yang kita cari sebetulnya? Dalam konteks ini, sang pencinta adalah figur yang sempurna untuk dimasukkan surga, karena keberhasilannya dalam menenggelamkan egoisme diri ke dalam lautan terdalam bernama hati. Dan dia membiarkan dirinya hanyut dalam alunan sufi tentang dasar kehidupan, yakni cinta pada sesamanya.
What a complexity. At least, saya menyarankan pada calon pencinta dan penerima cinta. Bukalah hati dan pikiran dan tunggulah saat yang tepat. Ketika saling tak dapat tergantikan, maka itulah saat cinta datang. Sembari menunggu cinta, bekerjasamalah dengan dirimu, sayangilah dia dan jadikan dia berharga. Karena dia yang temanimu sejak lahir sampai mathi.

Omong- omong, sebentar saya mencoba connect kembali di channel Yogyakarta. Menantikan pengganti sang pencinta sejati sembari bersajak...

I
Sebentuk resah datang menggodaku
Kuusir dia dari sisiku, tapi dia tak bergeming
Kubiarkan saja dia tak kuajak bergabung
Namun pelan dia merasuki aku yang lemah
Aku yang pernah dikatakannya kuno karena tak sanggup bercinta
Ah, resah, kenapa akhirnya kau mendatangiku
Diantara banjir rayuan dan kalimat gombal
aku merasa tertantang menjadi tangguh
selain tak sanggup berkata-kata manis dalam helai surat dan pena buluku

atau
Apakah ini saat yang tepat untuk kuutarakan padanya,
Jika aku mulai… ingin jatuh padanya..

Ah, resah, kau memang sialan!
Bubar sudah rencanaku menjadi ratu

II

“Aku bisa saja benamkan dirimu dalam pelukku.
Kibaskan sejenak cipta dan karsa, hanya rasa yang bicara.
Tiada selain engkau, cukup engkau saja.
Karena keras nadimu masih dalam ingatku
Dan lembut rambutmu masih terasa di genggamanku.
then I try to apologize myself, because I fall in love with you.”

Selasa, 14 Juni 2011

SATU RINDU TANPA SEMU

Hidup, mengapa engkau penuh dengan kemunafikan? Aku rindu kejujuran itu. Ketentraman sesungguhnya yang meresap dalam relung kalbu.
Hidup, mengapa engkau terkadang kejamnya menggerus kami nan kecil ini? kami yang tidak memiliki hak disini. kami sebentuk manusia yang telah diadministrasir oleh negara
Yang dibuatnya tak berhak lagi mendapat perlindungan di Bumi ini

Aku ingin hidup jauh di gunung berteman rusa dan kera yang bersahabat
Aku ingin hidup jauh di pulau terpencil meminum air kelapa muda dan merasakan angin laut menerpa lembut rambutku
Dan pasir putih pantai membelai jemari kakiku….. ah, indah nian hidup jika bisa……….
Rasakan kembali kemurnian sejati berteman alam yang naif
Tenang nyaman jauh dari hiruk pikuk udara tanpa kemanusiaan

Tapi entah Bumi ini siapa
Bumi kehilangan kehidupannya yang penuh keluguan
Mahkluk manusia bersaing untuk dapatkan tempatnya di Bumi ini
Dan pikirku Bumi dan hidup adalah milik manusia yang berkuasa. Manusia yang bisa menginjakkan kakinya diatas tubuh manusia lain.
Kukunya yang semu mencengkram tubuh manusia itu, seperti hewan predator. Pemangsa.
Manusia kejam yang semestinya tidak pantas disebut sebagai manusia. Muncul mengintai menerkam dari sudut mana saja
Berjuang dapatkan sejengkal kehidupan yang diinginkan, dan secuil tawa bahagia ditengah kemelaratan jiwa
Entah siapa yang harus disalahkan, mereka atau aku

Tuhan, lagi-lagi ini kukembalikan kepadaMu
Lagi-lagi aku mengadu padaMu
Entah akan Kau jadikan apa lagi manusia lemah seperti aku ini. entah apa lagi hal apa yang pantas Kau cobakan kepada aku nan hina ini.
Tuhan, maafkan aku, akhir kata aku sampaikan padaMu,
sepertinya aku sudah muak berhadapan dengan manusia, bahkan diriku sendiri.

Senin, 30 Mei 2011

RELIEF HATI

Jika kita berpikir untuk menerima dan menyalahkan keadaan, alangkah kasihannya si keadaan tersebut menjadi kambing hitam atas segala persoalan kehidupan yang menimpa kita. Jika mampu, mengapa kita tidak menantang keadaan dan berusaha mengalahkannya, jika itu keadaan buruk. Jika keadaan itu baik, lebih baik kita bersahabat dengannya. Selami kehidupan bahagia dengannya. Ya, bagaimanapun keadaan baik merupakan sinar terang dan imbalan dari semua keadaan buruk. Keadaan buruk yang dibalikkan kemudian menjadi keadaan baik. Tergantung mindset, nilai dan norma yang dipegang seorang manusia tersebut.
Manusia harus kuat dalam menerima semua keadaan dan memberdayakan kembali pola pikir rasionalnya. Keadaan buruk bukan untuk dipertemankan, melainkan proses alam terkait dengan pemprosesan ulang otak manusia untuk menuju tahap kedewasaan. Kita harus mampu memutarbalikkan fakta dan memanipulasi otak agar terus dapat bertahan di tengah gempuran kebutuhan hidup. Adalah cinta, materi dan Tuhan. Itulah kebutuhan hidup berimbang yang dibutuhkan manusia untuk mencapai idealisme sebagai manusia utuh.
Manusia harus mampu berjuang menggapai nasib baik dan menghancurkan nasib buruk yang menimpa. Jangan pernah takut gagal atas spekulasi nasib. Sekalipun hidup hanya sekali, meskipun hidup hanya sekali. Manusia harus tetap berada dalam batas antara cinta, materi dan Tuhan tersebut, meski seringkali harus hampir di luar batasnya. Kehidupan akan terus berlanjut. Kehidupan yang keras akan terus berlanjut dan menggerus manusia-manusia berhati kecil yang melintas dibawahnya. Tapi, bukankah setiap manusia tetap akan bersinggungan dengan kehidupan sejak masa konsepsinya dalam rahim ibu?
Manusia dibekali dengan kekuatan cinta dalam hatinya. Adalah penting untuk menemukan komunitas atau sebentuk manusia lainnya yang berpikiran sama dengan mindsetter dan berfungsi total sebagai unit pendukung. Ingat, manusia tercipta bukan penggembira! Manusia tercipta untuk memberdayakan penuh seluruh potensi dirinya. Dalam hal ini manusia bisa menjadi apa saja tergantung apa yang dipikirkannya. manusia adalah pemikir dan pekerja bagi tubuhnya. Manusia utuh harus memiliki idealisme yang senantiasa menuntun kehidupannya menuju arah yang lebih baik dan mapan.
Manusia bertumbuh sejak dia dalam kandungan. Ayah ibunya ditambah tangan Tuhan lah yang menjadikan dia lahir ke dunia dan menghisap aroma kefanaan. Manusia tercipta sebagai mahkluk lemah tak berdaya ketika dia lahir sampai dia beranjak layu lumpuh dalam melodi usia tua. Manusia harus berjuang penuh melawan kelemahan yang sudah didesain Tuhan dalam hatinya apabila ingin melawan keadaan yang dirasa semakin melemahkannya dan menghimpit relung jiwanya. Manusia harus mampu berpikir langsung terhadap detail Pencipta dan penciptaan dirinya agar senantiasa bangkit semangat perjuangannya menghadapi kelemahan yang menimpanya.
Manusia bukan hewan maupun boneka. Manusia bukanlah mahkluk hidup sembarangan dan bukan benda mati. Manusia harus mampu menghargai manusia lain dan lingkungan sekitarnya. tapi hal tersebut pengecualian terhadap kondisi jiwa yang belum mapan. Jika ingin mengenal diri sendiri nan lemah ini, sebaiknya saya sarankan untuk kembali memulai pemikiran dalam ihwal penciptaan diri dan dunia sebagaimana telah saya sebutkan diatas. Berpikirlah tentang hal-hal baik dan buruk yang pernah dilakukan. Berpikir berkacalah bahwa diri tidak sempurna, masih kurang 24 jam yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk manusia lain yang membutuhkan pertolongan. Masih banyak manusia lain yang kekurangan dan harus kita bantu melalui tangan kita. Ingat, mahkluk yang berpikir hanya manusia! Mahkluk lain hanya berbekal naluri yang ditujukan untuk penuntun dirinya.
Berbagai hal yang telah terjadi dalam kehidupan manusia disebut juga dengan takdir. Sesuatu yang telah diusahakan seorang manusia dalam suatu waktu yang menyebabkan hal yang diharapkan secara pikiran maupun batin dapat terjadi. Tapi bagaimana jika takdir ini melenceng dari rencana? Tentu tidak ada seorang manusia pun yang menginginkan terjadinya takdir buruk dalam kehidupannya. Semuanya ingin takdir terbaik dalam kehidupannya. Berarti ada kesalahan teknis yang membuat takdir menjadi barang mahal yang pantas diperjuangkan bagi manusia. Manusia tersebut telah melalaikan detail informasi yang akan membawanya dalam kebaikan. Manusia tersebut sempat tersesat dalam proses pencarian takdir.
Bagaimana membuat manusia sadar ketika dia tersesat dan merasa tidak nyaman atas kehidupannya? Mekanisme Tuhan yakni melalui takdir buruk tersebut. Takdir yang harus disikapi dengan penuh pemikiran tentang hal yang menjadikan buruk atau baik sebelumnya.
Menurut saya, manusia tidak dilahirkan untuk sesuatu yang buruk. Manusia dilahirkan untuk sesuatu yang membuatnya dewasa dan kuat menjalani kehidupan yang keras ini. manusia ditakdirkan untuk membantu sesamanya yang kekurangan dalam hal apapun. Manusia sesungguhnya adalah pelayan bagi manusia lainnya. karena manusia memiliki otak berimbang yang ditujukan untuk kebaikannya sendiri. Semua tergantung manusia, berpikir baik maupun buruk.
Seadainya manusia terlahir dengan suatu nasib yang nantinya akan dilihat orang lain sebagai nasib buruk, tentu saja manusia tersebut akan berpikir dia akan memiliki nasib buruk. Manusia bukan penilai sesungguhnya atas seluruh kejadian di semesta ini. manusia ditugasi untuk mengamati, mengawasi, dan berpikir mengenai ihwal penciptaan surga dunia ini. kemudia setelah settle pikirannya, maka dia harus mengemban kewajiban menolong sesamanya yang kekurangan dengan modal yang diberikan Tuhan, yakni dua tangan, dua kaki dan seluruh bentuk alat tubuhnya.
Manusia adalah pelayan. Manusia harus tidak berpamrih dan tidak berhak mengkritisi. Sesungguhnya yang pantas memberi kritik adalah sang Pencipta langsung melalui semua takdir manusia. Berjuanglah manusia!

Sabtu, 21 Mei 2011

TENTANG MANUSIA, NALURI DAN RASIONALITAS

Tuhan menciptakan manusia sebagai mahklukNya yang terdiri dari cipta rasa dan rasa. Sehingga secara logika manusi tercipta sebagai mahklukNya yang pintar dan memiliki kelebihan secara perasaan dan rasionalitas. Manusia lebih berpikir dibandingkan semua mahklukNya yang lain. Manusia memiliki indera yang disebut sebagai sense atau rasa yang sama dengan sebutan naluri.
Mahkluk hidup satu dan lainnya pasti memiliki pengalaman. Baik pengalaman pribadi dimasa lalu yang sudah dilewatinya, maupun pengalaman dengan sesamanya maupun antar mahkluk. Tuhan memikirkan dan menciptakan semua mahkluk dengan sedemikian kompleksnya. Sehingga tanpa disadari kita hidup untuk melengkapi kehidupan mahkluk lainnya. Hidup manusia dilengkapi oleh kehadiran tetumbuhan dan hewan sebagai makanan maupun sebagai peliharaan. Demikianjuga manusia bagi tumbuhan atau hewan. Meski seringkali manusia juga dianggap sebagai ancaman yang dapat merusak kehidupan para mahkluk tetumbuhan dan hewaniah tersebut. Kadang saya berpikir bahwa manusia sering kejam terhadap sesamanya yakni para mahkluk Tuhan tersebut diatas. Manusia kehilangan eksistensi sebagai satu-satunya makhlukNya yang berpikir.
Saya pikir hewan hanya mengandalkan naluri, yakni software yang didesain Tuhan khusus untuk mereka. Manusia juga miliki naluri, namun Tuhan tambahkan software lainnya yakni rasionalitas agar manusia dapat berpikir. Kenapa demikian, tentu tujuannya tidak lepas dari keberadaan manusia sendiri di dunia. Manusia diadakan di dunia yang tercipta dengan gratis ini demi kekekalan di kehidupan berikutnya, yakni kehidupan akherat. Tentu saja bagi manusia yang rasionalitasnya mapan yang dituju adalah surga.
Manusia harus mampu berpikir agar dapat bertahan di tengah gempuran perang dengan setan yang selalu waspada dan siap mengecoh kelengahan manusia dalam pertahankan rasionalitasnya. Setan mengelabui naluri binatang dalam manusia /id, sehingga manusia merasa berada dalam euforia jika dapat memuaskan nafsu binatangnya. Seks bebas, korupsi, merokok (adalah makruh), minuman beralkohol, semua adalah bentuk naluri kita yang dikecoh setan sehingga nafsu binatang kita yang merdeka. Manusia lakukan pengrusakan terhadap rasionalitasnya, bahkan ke lingkungan sekitarnya. Saat itu manusia adalah bukan manusia.
Hewan dengan software naluri tersebut menjadi seakan pintar, karena dia lebih peka terhadap tanda-tanda perubahan di sekitarnya. sementara manusia, karena Tuhan menciptakan setiap manusia dengan volume otak lebih besar , maka manusia harusnya pintar karena software rasionalitasnya. Manusia yang terlahir dengan tidak sempurna pun memiliki cara untuk memaknai kehidupannya. Meski dia tidak tahu mengapa hal demikian dapat terjadi dalam hidupnya, meski kadang dia tahu bahwa dia tercipta dengan bentuk berbeda daripada sesamanya. Tapi para disabilitas tidak pernah mengeluh. Saya tidak pernah mendengar ada cerita mereka mengeluh, berbeda dengan manusia normal yang seakan memiliki banyak permasalahan diakibatkan kerakusan (naluri yang menjadi sifat binatang karena dipengaruhi setan) mereka sendiri. Para disabilitas menerima keadaan diri mereka apa adanya. Saya pikir Tuhan pasti beri balasan yang setimpal, yakni tempat terbaik bagi mereka di surga. Terutama bagi para disabilitas yang mempu memberdayakan naluri dan rasionalitasnya.
Untuk manusia normal, saya pikir Tuhan menciptakan kami ini dengan kepandaian masing-masing. Tapi semua manusia normal tercipta pandai. Ingat itu ya! Tidak ada manusia normal yang bodoh maupun dungu, karena manusia normal memang didesain untuk berpikir mengenai ihwal penciptannya di dunia, berpikir tentang bagaimana mempersuasi Tuhan agar dapat menolongnya dari jebakan setan dan bagaimana cara menolong sesama mahklukNya yang berada dalam kesulitan.
Manusia normal memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya. Manusia tersebut berusaha bergabung dengan lingkungan dikarenakan sifat keingintahuan. Setelah mendapat basic life termasuk nilai dan norma dari lingkungan sekitar, maka manusia siap meluncur ke kehidupan dewasa yang penuh dengan tantangan dan hambatan. Jika basic life mereka terlalu rendah, maka biasanya tingkat survival terhadap pemenuhan materi biasanya malah tinggi. Dikarenakan manusia sudah kehilangan nilai. Sementara bagi yang basic life nya tinggi, biasanya tingkat survivalnya rendah dan memilih untuk bergabung kembali dengan komunitasnya agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik melalui nilai seragam yang ditanamkan. Materi bukan sebagai acuan dasar. Kecuali bagi penganut full basic life yang lebih sensitif terhadap perubahan kehiduupan di lingkungan baru, sehingga nilai dasar dan norma yang dipegangnya menjadi luntur, tergantikan norma lingkungan barunya.
Malam ini saya sempat ngobrol dengan dua orang sahabat di dunia maya tentang kerasnya kehidupan yang mereka alami. Mereka seumur dengan saya, namun saya masih harus banyak belajar dari mereka. Mereka memiliki jiwa survival tinggi karena lingkungan baru mensyaratkan demikian. Lingkungan lama adalah lingkup yang tidak mampu memenuhi kebutuhan secara materi. Mereka “dipaksa” memberdayakan seluruh akal pikirnya demi kebahagiaan di masa yang akan datang. Satu hal yang menjadi kesamaan antara dua sahabat yang berbeda cerita bahwa mereka memiliki dark side yang menjadi titik balik kehidupan mereka. Meski pahit, pil itu harus ditelan. Rata-rata manusia yang saya kenal yang sudah pernah rasakan jatuh dan ’ menjalani pengobatan’ bersama pil pahit itu justru bertambah pandai dan dewasa. Kinerja rasionalitas menjadi meningkat, meski seringkali masih belum bisa enyahkan nafsu binatang sepenuhnya.
Tapi itu sudah merupakan keberhasilan bagi manusia untuk mencapai tingkat pencerahan sampai di titik tersebut. Titik yang biasa saya sebut sebagai titik nol, dimana manusia sadar bahwa dia tidak memiliki apa-apa di dunia yang pantas menjadi pemberat pikirannya, kecuali Tuhan. Tuhan yang mengatur segalanya, termasuk kehidupannya, sehingga dia lebih bahagia karena dia tidak menjalani survival sendiri, melainkan ada pendampingan tak kasat mata, langsung dari Dzat Sang Maha Pen cipta. Kemana lagi kita harus berlindung selainNya? Ingat, manusia pandai manapun bukan jaminan akan dapat melanggengkan semua maksud baik kita. Hilangkan niat buruk, percayakan semua niat baik langsung pada Tuhan. Tuhan yang pasti akan tentukan jalan untuk membantu niat baik kita. Tuhan lah yang langsung menseleksi manusia-manusia terpiilihNya yang memang tercipta untuk membantu kita wujudkan niat baik tersebut. Jangan menyerah, ayo berjuang, jangan putus asa. Jika kau rapuh, gunakan akalmu, dirikanlah ibadahmu dengan ketenangan. Sadari kesalahan, mintalah pengampunanNya dan kembalilah ke pelukanNya sebagai anakNya yang baik. Niscaya hatimu akan kembali bercahaya.

Rabu, 18 Mei 2011

Renungan Batin
Tuhan, aku masih belajar mengenalMu, berinteraksi denganMu, hadirkan diriMu di setiap suasana hatiku, belajar untuk dekat denganMu, belajar mencandu di jalanMu, belajar mencintaiMu dan menjadi orang yang Engkau cintai.
Tuhan, apakah benar aku Engkau ciptakan sebagai pelayan? Server yang bertujuan serve everyone, membuat seseorang bisa menggapai keinginannya?Tuhan, aku sungguh ingin melayaniMu, namun sungguh, aku ilmuku baru sedemikian rendah. Tuhan, jikalau itu benar, maka aku harus tegar, dan aku mohonkan kekuatanMU untuk menguatkanku untuk tetap melayani umatMu dengan tetap berada di jalanMu. dariMulah kami sesungguhnya tercipta dan kepadaMulah kami sesungguhnya akan kembali.
Tuhan, bantulah aku untuk mengikhlaskan segalanya. Semua hal indah di masa lalu yang telah hangus, ayah dan keluargaku yang telah tiada,dan semua yang pergi tinggalkanku. Sesungguhnya aku berada dalam ketakutan Tuhan, ketakutan untuk sendiri. Ketakutan karena aku merasa keluargaku tidak memperhatikanku. Oh Tuhan, hebat betul tipu daya setan merasuk dalam hatiku. Sesungguhnya AKU ADALAH PELAYAN, yang mengikhlaskan yang memberikan keinginan setiap umatMu yang menginginkannya, memudahkan cara mereka yang menginginkannya. Sesungguhnya itu keinginanku, dan aku berhak bersanding dengan orang2 yang memiliki keinginan lainnya. Sesungguhnya Engkau telah menciptakan kami mahlukMu, dengan sempurna indah dan mendetail. Sesungguhnya keinginan kami adalah keinginanMu. Aku ini pelayan mu Tuhan, pelayan umatMu, yang bertugas untuk mendorong mereka mencapai misi mereka di dunia ini, dan itulah misiku.
Mudah2an aku berhasil menjadi pengusaha Tuhan, pengusaha yang memiliki mimpi untuk memudahkan orang lain mencapai keinginannya,selama hal itu halal dan berada dalam jalanMu, dan ini cukup rahasiaku denganMu. Mudah2an aku menguncinya kuat dalam benakku, hatiku, dan menjadikan jiwaku bersih, karena telah berada pada jalanMu. Muliakanlah orang2 yang telah membesarkanku, mengajarkanku arti makna kehidupan, mengajarkanku betapa baiknya dunia kepadaku/ dan aku belum dapat bersyukur/,mengajarkanku bahwa kesombongan dan egoisme bukan penyelesaian suatu masalah, semua orang dimasa laluku, terutama Ibuku, keluargaku, tempat kubelajar tentang sikap baik dan perilaku berani tantang takdir.
Keinginanku adalah sebagai pelayan, dimana aku dapat merefleksikan diri dalam setiap produk ciptaanku, apapun yang aku buat berdasar jalan kebaikan yang telah diinstalkan Tuhan, untuk melayani umatNYa, para sahabat, orangtua dan adik. Memudahkan mereka untuk mencapai apa yang diinginkannya, pencapaian misinya. Aku bukan orang kosong. Sesungguhnya aku penuh dengan rencana.
Namun, apalah arti rencana jika tidak diimbangi dengan pembelajaran dan kemauan berusaha itu sendiri? Berilah berkahMu Tuhan. Mudah2an Engkau berikan hambaMu ini pengetahuan dan petunjuk, allohumma amin.

Renungan Batin eds. 4
Sesungguhnya Allah azza wa jalla adalah Pencipta mu, wahai manusia. Pencipta kaummu, para nabi, sebelum dan sesudah Muhammad. Muhammad adalah pembawa agama yang paling sempurna diantara semua umat karena Islam adalah agama untuk semua umat, bukan untuk satu golongan/kaum saja. Di Injil, di kita Zoroaster telah disebutkan demikian. Sesungguhnya umat Islam adalah umat yang berhak melakukan Islamisasi dengan pendampingan dimulai dari syariat. Sholat, puasa, zakat, membaca Al-Quran, apabila hartamu cukup maka berhajilah. Sesungguhnya semua itu tidak semata2 sebagai rutinitas seorang muslim, melainkan untuk perbaikan iman yang membawanya pada ketaqwaan dan perbaikan taqwa.
Setiap Muslim adalah khalifah semua umat. Sesungguhnya setiap Muslim ditakdirkan menjadi orang yang luwes dan santun dalam bergaul. Tuhan murni ada dihati kita. Tuhan mengawasi, menciptakan, bersatu dengan setiap makhlukNya. Trust it. Berjalanlah dijalanNya, yakinlah pada cara yangg kau tempuh//selama itu berada di jalanNya// maka you win. But when u win, sesungguhnya itu sendiri merupakan cobaan, karena engkau akan mudah disombongkan dan diterpa oleh hembusan nafas setan. Nope, berjuanglah dengan cara yang kau bisa percayai untuk menuju TuhanMu.
Anggaplah bahwa semua agama memiliki niat baik untuk membina umat di jalan kebaikan dan berkomunikasi dengan baik dengan tuhannya. Ya, its true. Anggaplah semua agama sama, tapi Islamlah yang paling sempurna diantara semua itu. Dan janganlah engkau sombong, sesungguhnya kesombongan adalah hembusan nafas setan//yang bau//.
Bukan tidak jujur. Melainkan khalifah hanya cukup untuk menghargai perbedaan, menjauhkan diri dari kesombongan, merelakan diri membantu orang lain di jalan kebenaran, mengarahkan orang lain menuju kebaikan, mencontohkan kebaikan dalam setiap detak jantung kita hirup nafas kita, dan membuat orang lain percaya pada kitaa. Jangan jatuhkan orang lain, sesungguhnya perbuatan itu termasuk perbuatan dzalim, dimana kita sudah merampas hak orang lain untuk melakukan yang disenanginya/ jika berkaitan dalam konteks kebaikan dalam beragama, cara beragama/. Sesungguhnya menjadi khalifah itu bukanlah pekerjaan berat jika kita mampu terapkan dalam kehidupan keseharian kita. Bijaksanalah. Adillah. Pilih yang tebaik untuk semua. Bukan berdasar egoisme diri semata. Tuhan pasti tahu apa yang diperbuat hambanya. Tipu daya setan selalu mengintai kita dari balik tabirnya. Sembunyikan ketakutan kita, karena ketakutan kita hanya milik Allah semata, sang Pencipta manusia, alam semesta, bumi beserta isinya. Wajiblah takut hanya pada Dzat yang Maha Besar, Dzat yang Maha Melihat dan Mendengar tersebut. Sesungguhnya Tuhan mentakdirkan kita semua umat sebagai saudara. Berbaiklah, bijaksanalah, adillah, maka kau sudah berjalan bersamaNya, di jalanNya, insyallah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Allohumma amin.