Rabu, 18 Mei 2011


Tentang Pengasuhan Anak
Semua ibu adalah mahkluk yang layak dihormati krn kita ada di kefanaan ini lewat dia dan siap menjadi mahkluk kekal kelak pasca peradilan. Seorang ibu memiliki tanggungjawab penuh kepada anak atas masuk nya sang anak ke surga maupun neraka. Tapi disini ibu juga harus memiliki sikap tidak arogan atas anugerah Tuhan tersebut dan tidak berkecil hati atas keterbatasan diri, sebagai perempuan.
Banyak referensi mengenai pengasuhan anak. Seorang anak lahir dari hubungan ayah bundanya. Dan satu hal perlu diingat bahwa anak tidak meminta untuk dilahirkan. Sehingga apabila ortu bertindak acuh ataupun memperlakukan berlebihan terhadap anak sendiri, maka kita harus kembali pada ide awal tersebut. Anak bukan beban, melainkan anak adalah adalah tanggung jawab ortu yang wajib diarahkan dan disayangi. Ortu harus sadar bahwa anak perlu dukungan, perlu diisi dengan hal positif, keberhasilan anak adalah keberhasilan ortu, dan anak menyadari bahwa dia harus menghormati orang tuanya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang ortu lakukan terhadap anak dan lingkungannya akan menentukan masa depan anak.
Sebenarnya dalam setiap pengasuhan dibutuhkan juga peran serta ayah sebagai ortu biologisnya, terutama dalam pernikahan. Stigma di masyarakat adalah ayah berkewajiban menafkahi anak istrinya. Ibu berhak mengatur keuangan yang dihasilkan ayah maupun ibu sebagai operasional rumah tangga. Tetapi sesuai perkembangan jaman, tidak semua keluarga inti memberlakukan hal tersebut.
Hak pengasuhan menurut saya terletak di tangan kedua ortu. Dibutuhkan kecocokan dan diskusi mendalam mengenai pengasuhan, karena pengasuhan menentukan karakter dan mindset anak kedepannya. Banyak yang dibutuhkan oleh seorang anak dalam masa pertumbuhan terutama umur 0-5 tahun. Dia melakukan proses pengenalan terhadap lingkungan sekitarnya. dia mengenal orang2 terdekatnya, terutama ibunya. Akibatnya anak hanya akan menurut pada orang terdekatnya. Sekaligus akan bertindak nakal pada orang terdekatnya tersebut.
Orang yang merasa dewasa dan merasa memahami sang anak tanpa eksplorasi lingkungan lebih lanjut akan mengatakan bahwa saat bertindak nakal, anak dalam kondisi egois dan ingin diperhatikan. Exactly, benar sekali. Tapi bukankah kita ortu hidup bukan untuk melayani anak saja,,, ada pasangan, ada ortu, ada mertua, ada kakak2, ada orang lain untuk dilayani, orang diluar anak. Ortu akan menjadi kerepotan apabila terus menerus melayani anak, karena hal itu menyebabkan anak menjadi pribadi yang manja.
Bertindak kasar dan berbohong adalah kebiasaan ortu yang harus dihilangkan apabila ingin anaknya tumbuh sehat secara lahir dan batin. Anak yangs ehat lahir dan batin dapat memunculkan akhlaq yang baik. Bukankah tujuan kita adalah untuk menjadikan generasi kita jauh lebih baik daripada kita?
Untuk mengatasi hal tersebut / kenakalan anak / maka ortu harus mendisiplinkan dan berlaku tegas pada anak. perlu dipahami, bahwa ortu bukan diktator melainkan sebagai ortu yang tegas dan berperilaku dewasa. Ada saat untuk menyayangi, tetapi ada saat untuk memberi efek jera berupa hukuman ringan pada anak. Hukuman ringan, semisal mendudukkan dia di kursi selama 5-10 menit, akan membuat anak merasa ruang bebasnya terkontrol dan dia akan menurut pada ortu dikarenakan dia sadar bahwa dia tidak bisa dengan bebas mengendalikan ortunya. Ortu sebagai ortu, anak sebagai anak. Ortu tidak bisa menuruti semua perintah anak, karena dalam fase pertumbuhan ini ortu yang memegang peranan penting terhadap anak. Bayangkan jika ortu dikendalikan anak atau coba bayangkan anak yang hidup tanpa ortu, dia akan menurut/menurun pada lingkungan sekitarnya.
Sebagai ortu, Kita perlu melakukan beberapa langkah untuk menjadi ortu yang baik. Ortu yang baik adalah ortu yang dituruti anak dan sekaligus percaya diri terhadap potensi diri ke arah kebaikan dalam pengasuhan. Kita harus disiplin terhadap diri kita sendiri kemudian dilanjutkan dengan mendisiplinkan anak. antara lain membuat jadwal yang jelas bagi anak kapan saat bangun tidur, saat tidur, saat makan, saat bersosialisasi dengan teman, saat belajar. Saatnya sebagai ortu, kita harus talk less do more. Keluarga inti menentukan akan jadi apa anak kita kelak. Kita harus memberi contoh perbuatan dan perkataan yang baik bagi anak agar sang anak menirunya. Berkatalah bahwa “Saya dapat menjadi ortu yang baik!” mulai detik ini. dan lakukan hal positif untuk keberhasilan sang anak di masa depan.

Bicara yang lain saja, jangan soal cinta..
Ah, rumahtangga. Sudah 3 tahun aku melaluinya. Belum apa-apa, biduk ini sudah akan terancam karam. Ternyata pasca menikah kami memiliki banyak perbedaan pikiran dan hal-hal prinsipal. Aku pikir dengan masa pacaran hampir 3 tahun, kami saling mengerti satu sama lain. Ternyata tidak demikian.
Suamiku adalah seorang lulusan sarjana bidang pemerintahan sebuah perguruan tinggi swasta. Lingkungan kampus adalah tempat dimana kami memulainya, pertama kali bertemu, berkenalan dan memutuskan untuk bersama. Awal pacaran adalah hal yang sangat menyenangkan. Meski putus nyambung mewarnai hari-hari pacaran kami, itu tak pernah bertahan lama. Paling banyak hanya 1-2 hari saja. Setelahnya balik nyambung lagi dan aku berpikir bahwa kami saling membutuhkan satu sama lain. Ya, dia suamiku selalu tahu cara menundukkan hati dan perasaanku, membangkitkan perasaan tak mau sendiriku, mempertebal rasa kasihan dan sangkaanku atas kesendiriannya nanti. Aku merasa bertanggungjawab atas perasaannya. Setelah itu kemana-mana bersama lagi, tak henti-hentinya bercakap tentang kami dan masa depan. Aih, masa depan yang mana pula. Look at us now.. I feel no progress in our marriage.
Ya, entah mengapa kami sering terlibat dalam caci maki dan kemarahan. Sebenarnya aku menginginkan pasangan yang dapat menjadikan nyata mimpi-mimpiku. Menenangkan kegelisahan hatiku dan bertanggungjawab lahir batin atasku. Membawaku dalam kebahagiaan dunia akhirat dan kunci jawabannya adalah bukan dengan kekerasan fisik dan psikis. Kupikir suamiku dan manusia lainnya sama juga pikirannya denganku. Aku tahu kami sebenarnya saling mencintai tapi dengan cara yang berbeda. Sedikit menyakitkan, tapi itulah kenyataan.
Aku pernah membaca bahwa seorang yang merasa hampa adalah orang yang kehilangan keyakinan (agama) dan harga dirinya. Ya, mungkin itu yang aku rasakan beberapa waktu lalu. aku melayani mengabdi mencintai suamiku teramat sangat, sehingga aku sendiri yang merasa sakit ketika feedback yang aku harapkan tidak muncul darinya. Perlu diketahui, secara materi kami memang belum settle. Aku adalah pekerja lepas sebuah lembaga pelatihan di kampus kami, dan suamiku adalah seorang politisi yang sedang berjuang untuk dapatkan posisi di negeri ini. Intinya tiap hari belum selalu ada uang untuk makan. Ya, aku memakluminya dan aku berusaha dengan keras untuk memahaminya. Aku tahu suamiku adalah pemikir, pemilik ide-ide besar yang mendasar tentang perubahan, seorang visioner idealis yang mampu melihat jauh kedepan tentang masa depan negara ini. Dan untuk melakukannya, dia berjuang dengan caranya sendiri, yakni berusaha berperan dalam sistem pembuatan kebijakan. Dia bercerita bahwa untuk mengubah negara yang hampir bobrok dari semua lini ini, dia harus masuk dalam core nya dan itu bukan hal mudah. Berangkat dari kemauan kerasnya tersebut, aku tahu bahwa akan banyak yang harus dikorbankan, secara materi, tenaga dan termasuk perasaanku.
Mungkin aku terlalu bermimpi. Padahal ini kenyataan yang harus dihadapi. Tapi setidaknya aku tak ingin sendiri, melainkan ada suamiku yang menguatkanku. Aku ingin dia selalu ada saat aku butuh. Ternyata tidak. Kepentingan lobi-lobi politik hampir tiap hari dilakoninya. Berangkat siang, pulang tengah malam, hampir pagi atau bahkan berhari-hari tidak pulang. Katanya dia bertemu dan memenuhi undangan stakeholder di bidang legislasi yang harapannya kelak akan memberi kami materi dan diharap bukan cuma janji. Sebetulnya suamiku sempat memiliki pekerjaan tetap sebagai kepala promosi di salah satu perusahaan rokok nasional yang membawahi 5 kabupaten di Jawa Timur. Tapi hatinya berkata lain dan dia memutuskan resign agar dapat mengikuti pemilihan legislatif tahun 2009 lalu, meski pada akhirnya dia kalah suara. Sekalipun begitu, sejak itu dia tetap bersikukuh terhadap keinginannya untuk masuk dalam dunia politik. Awalnya aku tidak setuju dengan bidang yang dipilihnya, karena proses dan hasil tidak berimbang, lama, dan aku tak merasa tak sanggup. Tapi dia selalu berhasil merayuku dengan mengatakan bahwa politik adalah investasi masa depan dan akupun luluh. I trust to him.
Setelah itu aku merasa kosong. Ada perasaan bahwa aku harus siap kehilangan segalanya demi suamiku. Bahkan hubungan dengan keluargaku sempat memburuk karena ketidakpercayadirianku dan ketiadaan biaya. Aku sebagai ibu sering merasa tidak mampu dalam hal pengasuhan anak-anak kami. Sering aku merasa tak enak badan karena terlalu memikirkan dia yang jarang di rumah. Sudah makankah dia, sakit maag nya kambuh tidak, barang bawaannya ada yang ketinggalan tidak, kok hari ini ga ada sms atau telpon dari, even.. prasangka yang paling menyeramkan…. Apakah dia tidak menginginkanku? Akankah dia menemukan perempuan lain yang diinginkannya di luar sana selainku? Aku kadang berpikir bahwa dia sebenarnya tidak mencintaiku. Aku berpikir suamiku berharap akan mendapatkan perempuan lain yang sesuai dengan kriterianya. Perempuan baru yang lebih mengenal dirinya dan berhasil secara materi. Ya, soal materi ini, aku memang sering ajukan proposal padanya agar aku dapat bekerja kasar saja, apa saja aku mau, agar lebih cepat dapatkan uang. Tapi apa daya, acc ga pernah keluar dari bibir bapak yang satu itu. Jadi sebenarnya aku amat sangat bingung dengan dirinya. Apa yang dia mau dariku? Aku merasa dia tidak berkata jujur ketika kuberanikan diri untuk tanyakan hal itu. Aku merasa belum pernah mengenal dan mengena di hatinya. Hampir seperti… cinta bertepuk sebelah tangan.
Ya, tapi itu dulu. Sekarangpun jika dipikir, aku rasa hubungan kami belum membaik juga. Hatiku belum berasa tenang dan nyaman. Bagiku masih banyak halangan yang merintangi jalan kami. Ya, halangan yang tak mungkin aku ceritakan disini karena menyangkut beberapa pihak. But, bagaimanapun pihak-pihak tersebut adalah saudara sebadan sesama Muslim. Jadi lebih baik tak usah memperpanjang urusan, kan? Jujur saja, sekarang ini aku menyerahkan urusan rumah tanggaku langsung kepada Tuhan YME. Aku membiarkanNya melihat, menilai dan memutuskan akan jadi apa kelanjutan hubungan kami ini kelak. Aku lelah dan sudah ga sanggup memikirkan semuanya sendiri. Jadi, lebih baik begini, ringankan pikiran, letakkan senyum di hati dan berperilaku yang baik, murni tanpa prasangka buruk pada semua orang dan Tuhan sendiri. Merujuk pada QS Al Hujuurat, bukankah manusia yang mahkluk ciptaanNya ini tidak boleh dahului hukumNya?
Aku sekarang ini hanya berusaha memberikan yang terbaik yang aku bisa untuk suamiku, anak-anak dan keluarga kami berdua, terutama untuk suamiku, meski aku merasa aku tidak sempurna untuknya. Tapi bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Hidupku kini adalah untuk melayani. Bukankah sikap Tuhan seperti itu, Dia orang tua yang baik. Menciptakan anakNya untuk surga keabadian di akherat, mengawasi kehidupan sang anak di dunia dan memberikan hukuman neraka dunia akherat jika sang anak mulai nakal. Tuhan melayani umatNya dengan sempurna. Memberikan semua yang kita butuhkan di Bumi ini, all free, even tubuh kita ini dan alat-alat didalamnya, yang mungkin sering kita salahgunakan kegunaannya. astagfirullah..
Kini aku sedang penjajakan untuk coba temukan fasilitas yang diberikan Tuhan kepada umatNya, yang cocok denganku. Mungkin ini yang cocok ya, aku coba menulis apa yang jadi ganjalan dalam hatiku. Aku memang tak pandai bersilat lidah, namun aku memiliki hati dan tangan untuk ungkapkan perasaanku melalui tulisan. Aku hanya aku, aku harus terima kenyataan bahwa keadaan tidak akan berubah jika kita tidak ingin berubah. Ya, memang harus disadari betul-betul bahwa secara hati kami tidak akan pernah bisa bertemu. Dan untuk mempertahankan pernikahan ini secara agama dan administratif, aku harus mau mengalah sementara waktu sampai vonis Tuhan sesungguhnya, nanti, entah kapan. Aku tahu Tuhan masih mengawasi kami dan kebodohan kami. Aku hanya minta pada Tuhan untuk kuatkan hatiku. Jadi, kini ketika menyadari bahwa hatiku mulai terasa dijajah lagi oleh suamiku, aku tak mau terlalu memikirkannya dan bibirku harus kupaksa berterus terang padanya, “mas sayang, aku takut jatuh dan hancur lagi, jadi tolong bicara yang lain saja, jangan soal cinta ya……”

cerpen
BALADA KEBO DAN AYAM JAGO
By Dian Aulia

Halo semua, kenalkan aku si Putri Kebo. Aku tinggal di pertanian milik keluarga Exye. Tapi aku tak tinggal sendiri, aku tinggal bersama dua kebo lainnya, nenekku si Kebo Anting dan ibuku Kebo Ninatang. Aku bahagia karena semua sudah dicukupi oleh Pak Bu Exye dan aku tak perlu mencarinya sendiri. Ya, dasarnya sih, memang aku sangat pemalas. Tapi kalau sudah bekerja di sawah, wah, jangan tanyakan kemalasanku, aku bekerja sepenuh hati dan kredibel (aih,kayanya bahasa ini terlalu high untuk kalangan perkeboan). Meski aku dipelihara oleh keluarga Exye, aku masih dalam pengawasan ibuku. Ibuku memperlakukan aku secara berbeda dengan anak-anak kebo lainnya. Ibu amat sangat memanjakanku dan bahkan ibu sering memberikan makanan jatahnya untukku. Maksudnya se, biar aku bisa sehat dan montok biar dapat jodoh kebo jantan yang cakep dan gagah nantinya.ya, ibuku memang suka berkhayal. Masa kecilnya dilewati dengan menonton film-film kartun Barbie yang sering diputar oleh anak-anak keluarga Exye. Kebetulan kandang ibu dulu berhadapan dengan jendela ruang keluarga dimana televisi berada. Ibuku bermimpi menjadi sang putri, namun mimpi tersebut sirna seketika pada saat ibu dijodohkan dengan kebo jantan milik pak Abe, tetangga sebelah. Hanya dua minggu kumpul bareng kebo jantan tersebut, ibuku langsung bunting. Ya, kebo jantan itu adalah ayahku, dan sejak aku lahir sampai sekarang, aku sudah tidak pernah melihatnya lagi. Kudengar dari orang-orang yang lewat, ayahku sudah mati karena kena gigitan ular di sawah ketika aku masih dalam kandungan ibuku. Ah, siapapun ayahku, sudah tak penting lagi bagiku. Karena aku tidak perlu sekolah, buat akte kelahiran, dan tanda pengenal lainnya seperti manusia yang kian hari kian ruwet kehidupannya. Sekarang ini aku cukup bahagia hidup bersama nenek dan ibuku.
Akupun kini tumbuh jadi gadis kebo remaja. Aku jadi kebo centil dan kemayu karena treatment ibuku padaku, yang sedemikian memanjakannya. Sebenarnya aku agak malas bekerja. Tapi Pak Exye pintar sekali merayuku, sehingga aku mau ikut membajak di sawah. Pak Exye tidak hanya memelihara kebo di peternakannya. Melainkan ada kelinci, sapi perah, dan ayam. Ups, ayam, aku tak pernah mau main bersama ayam karena mereka sering menggunakan paruh mereka untuk menyakiti tubuh kami. Gemas mungkin ya,, karena kami bertubuh besar sementara mereka kecil mungil dan berbulu, hii…
Ah, ini pasti ayam yang baru dibeli pak Exye! Kudengar kemarin memang memang Pak Exye akan membeli ayam jago, untuk menggantikan ayam jago yang sudah tua. Ayam nya memang jenis ayam tulen, ayam kampung yang muda, gagah dan sehat. Takut-takut aku melihatnya dari balik kandang. Rupanya dia sedang menutul jagung yang disebar. Khusus untuk ayam, memang hanya dikandangkan jika malam tiba.
Mungkin karena merasa ada yang diam-diam melihatnya,si jago pun menghentikan acara makannya. Diapun menoleh, dan bergegas dengan dada membusung dia mendatangi kandangku.
“hei, kebo, kenalkan namaku Jago, penghuni baru peternakan ini. aku tiba barusan. Namamu siapa?”
“Nama ku Putri, Jago. Tapi kamu jangan dekat-dekat aku ya.”
“Lho kenapa?”
“aku agak trauma tubuhku ditutul-tutul dengan paruh oleh ayam-ayam di sini. Kan sakit, makanya aku takut dekat-dekat sama ayam.”
“Oh gitu, aku tidak akan menutul tubuhmu, karena bukan kebiasaanku. Aku pernah jadi ayam aduan, jadi aku tidak akan menyakiti yang bukan musuhku. Dan nanti aku akan bilang pada ayam-ayam sini agar tidak menutul tubuhmu. Jadi, kamu mau berkawan denganku?”
“Betulkah? Ya, tentu saja aku mau jika kamu begitu. Kamu baik sekali.”
Cerita pun berlanjut. Kami kemudian bersahabat dan saling bercerita. Aku dan dia sama, tidak tahu siapa ayah kami. Bahkan dia hanya sebentar diasuh ibunya kemudian dipisahkan untuk dijual bersama ayam jago lainnya. Jago bagiku adalah seekor hewan yang bertanggungjawab, setia, royal dan dapat diberi kepercayaan. Dan pernah dia mengatakan bahwa aku baginya adalah sesosok hewan yang lucu, manja, tapi sebetulnya dewasa, tegas, bisa memahami dan pendengar yang baik (memang aku jarang bicara, karena dia yang suka bercerita. Bagiku saat bekerja ya bekerja, saat santai ya santai. Cuma dua hal itu hidupku).
Di suatu senja yang indah, ketika aku di sawah, Jago menghampiriku dan menyatakan perasaannya padaku. Ternyata dia mencintai aku yang pemalas ini. bagiku hal yang aneh sekaligus indah kedengarannya, aneh karena aku tidak percaya karena aku yang pemalas ini ada yang ingin memiliki dan indah karena Jago yang pertama. Diapun menyatakan kebingungannya, “Entah perasaan apa ini, aku merasa ada perasaan yang berbeda denganmu. Beda dengan ayam-ayam betina yang pernah kukencani.” Dan aku mengiyakan perasaannya. Aku yang pemula dalam percintaan ini, coba ikuti alurnya. Ternyata alur itu tercipta sedemikian indah, ternyata akupun luluh beneran padanya. I’m in love after he did.
Suatu hari, ibuku bertanya padaku tentang hubunganku dengan Jago. Banyak hewan di peternakan yang mengatakan bahwa kami berdua sering terlihat bersama. Kukatakan kami saling mencintai dan akan kawin. Ibuku menganggap aku hanya berkhayal. Kemudian dia memberikan fatwa haram atas kebersamaan kami. Ibuku memarahi aku dan melabrak Jago agar tidak mendekatiku lagi.
Sejak ibuku bertambah galak padaku dan mengawalku kemana saja agar Jago tidak mendekatiku, (keluarga pak Exye bingung sekali dengan perubahan ini), aku sering lepas kendali dan sering sakit. Suatu ketika aku sakit parah, hingga aku tidak dapat makan dan sekedar bangun dari kandang, nenekku Kebo Anting menghampiriku.
“Cucuku, nenek tahu perasaanmu. Sebenarnya nenek sudah lama mengawasimu dan Jago. Tak disangka ternyata cinta kalian begitu dalam. Jago sering menanyakan kabarmu dan bertanya pada nenek tentang keadaanmu. Nenek juga sering memergoki dia melamun dan memandang ke kandang kita ini dengan tatapan kosong. Sekalipun kamu tidak tahu, karena kamu hanya bisa berbaring. Nenek jadi tahu Jago sangat menyayangimu. “
“Iya nek, terima kasih, aku tak sangka engkau akan mendukung aku, karena selama ini kita tak pernah berbicara mengenai hal ini. tapi ibu pasti tetap tidak setuju, karena Jago bukan seekor kebo jantan.”
“Nenek akan bercerita. Ada sebuah kisah cinta antara seekor kebo betina dan burung prenjak jantan. Mereka bertemu di sawah. Kebo betina dibesarkan oleh ibunya, dan ketika dia sudah cukup umur dia dipekerjakan oleh majikannya di sawah. Ternyata di sawah ada seekor burung prenjak yang hinggap di punggungnya. Mereka bertemu tiap hari dan terus bersama. Suatu saat burung prenjak menyatakan cintanya dan kebo betina muda menerimanya. Ada getar rahasia yang menyatukan mereka berdua hingga ibu kebo betina mengetahui percintaan mereka. Ibu kebo marah sekali karena kisah kebo dan burung prenjak biasanya hanya sebatas sahabat, kini malah berpacaran dan akan kawin. Wah, ya ndak mungkin, mana bisa punya anak… ibu kebo pun memutuskan untuk memisahkan dua sejoli. Tak lama kemudian, kebo betina muda pun sakit parah. Karena sedih melihat keadaan itu, ibu kebo mengikhlaskan anak perempuannya untuk bersama burung prenjak. Kebo betina muda pun bahagia. Dia bersemangat kembali ke sawah untuk membajak dan bertemu prenjak jantan. Namun, prenjak tidak ada. Dipikirnya mungkin belum beruntung hari itu. Namun, setelah bertanya dengan prenjak lainnya, ternyata didapati kenyataan bahwa prenjak jantan sudah mati. Dia mati ditembak senapan angin oleh anak-anak yang main di sawah. Kebo betina menjadi sedih kembali dan memutuskan untuk menutup hati. Sampai akhirnya dia harus menerima kenyataan bahwa dia akan dikawinkan oleh majikan dengan kebo jantan yang tak dikenal untuk mendapatkan keturunan, karena hal itu yang diinginkan manusia. Jadi kebo betina kawin tanpa cinta.”
“Benarkah itu nek, kok persis ceritaku ya? ternyata bukan aku saja yang mengalami kisah cinta antar mahkluk ya. Tapi….sedih sekali akhir ceritanya. Selain itu, Ibu nek, aku tak masih sanggup minta restunya.”
“Nenek akan coba bilang pada ibumu. Berdoalah pada Sang Pencipta, mudah-mudahan ibumu berubah pikiran.”
“Trima kasih nek, tak kusangka engkau begitu baik padaku.”
Sekalipun demikian, aku belum merasa lebih baik. Aku belum mendengar restu dari ibuku. Dia hanya menyentuh dan merawatku sekenanya saja. Tapi di suatu sore nan indah, ibuku mendatangiku.
Dia pun berkata, “Putri ibu nan cantik. Kamu tercipta untuk kebo jantan yang gagah, bukan untuk seekor ayam yang berbulu dan kecil. Semua mahkluk hidup memang diciptakan berpasangan, tapi juga menurut masing-masing jenisnya. Manusia berpasangan dengan manusia. Kuda berpasangan dengan kuda. Kelinci, kamu lihat Cici dan Bolu di kandang sebelah sana, mereka sama-sama kelici juga kan? Demikian kamu, kamu adalah jenis kebo dan hanya akan berpasangan dengan kebo. Jika tidak begitu, siapa yang akan melanjutkan keturunan kita di peternakan ini?”
“Iya itu benar ibu, tapi jika berbicara soal hati, aku tidak sanggup berpindah kepada kebo atau mahkluk lainnya. Si Jago itu benar-benar telah mencuri hatiku dan akupun bisa stress dan sakit ketika aku dihadapkan pada kenyataan ini.”
“Anakku, putri Kebo, jika kamu telah berpikiran demikian, maka ibu tidak bisa melarangnya. Soal cinta dan hati adalah milik setiap mahkluk yang memang langsung diinstalkan Sang Pencipta. Tapi jika Dia berkehendak, maka kau tetap anak ibu.”
“Ibu, terima kasih atas pengertianmu. Mudah-mudahan Sang Hyang memberimu tempat terbaik kelak.”
Akhirnya kami kembali bertemu dan bercinta. Aku tak dapat mencintai kebo jantan dan hewan lainnya karena hatiku memang hanya untuk ayam jago seekor, demikian juga dia. Aku akhiri kisah ini dengan sedikit perih, karena aku harus berbagi cinta dan kasih sayang ayam jago dengan para selirnya, yakni 7 ayam betina di peternakan pak Exye. Sekalipun begitu, ternyata kami makin terkenal, lho! Minggu lalu ada puluhan wartawan datang ke rumah Pak Exye untuk memberitakan kami berdua. Di depan kamera aku dengar aba-aba agar aku lebih dekat dengan ayam jago, aku dan ayam jago pun beraksi dengan menampilkan pelukan kami yang termesra. Sepulang para wartawan tersebut, pak Exye mengelus tubuhku dan berkata bahwa berita tentang aku dan ayam jago akan muncul di media massa. Katanya aku juga akan mendapat jatah makanan tambahan karena banyaknya para manusia yang ikut memasukkan uang di kotak amal yang sengaja dipasang pasca kisah cinta kami diekspos media. Kata manusia, aku dan ayam jago adalah pasangan aneh bin ajaib abad ini. Hari ini pun ratusan manusia datang kekandangku, khusus melihat kemesraan kami berdua, aku dan ayam jago. Kami memang tak terpisahkan. Ah, senangnya, setidaknya kini manusia pun tahu kami saling mencintai. Meskipun, pada akhirnya nanti aku tahu aku harus menerima seekor kebo jantan yang tak kukenal untuk menjadi ayah dari anakku, meski tanpa cinta, seperti kisah ibuku dan burung prenjak.